11 Desember 2008

Babe Haji Saman: Nasi Uduknye Orang Betawi

Jakarta. Buat penggemar nasi uduk, apalagi nasi uduk khas Jakarta, nama warung yang satu ini pasti nggak terdengar asing. Lho kok bisa? Liat aja wisata kulinernya om Bondan Winarno di Trans TV beberapa waktu lalu yang sempat menyinggahi lokasinya di bilangan Tanah Abang. Bahkan, jika ente-ente nyoba masukin keywordnya “babe saman” di Google, dijamin nama warung yang dimaksud bakal muncul sebajeg (baca: banyak). Itu artinya, nama besar Babe H. Saman emang udah tersohor sampe ke Amerika (pan serpernya Google ada di Amerika :)).

Okeh, jujur nih, ane baru pertama kali menyambangi warung si Babe ini. Sebelumnya, kalo makan yang namanya nasi uduk Tanah Abang, ane selalu mampir ke warung sebelahnya. Dengan kata laen ane nyasar bos, hehehe. Padahal jarak antara warung langganan dengan warungnya si Babe ini gak lebih dari 10 meter. Maklum deh, biar lama di Kemayoran, ane masih gape' soal seluk beluk Tanah Abang.

Karena saat berkunjung jam sudah menunjukkan pukul 20.30 WIB, gak heran kalo warung yang kabarnya udah punya cabang di Kelapa Gading ini agak lengang. Gak pikir panjang lagi, langsung deh ane duduk dan pesen makanan khas-nya Babe Saman, yaitu ayam goreng, tempe, dan tahu. Soal menu, sebenernya kite bisa nemuin banyak makanan khas Jakarta di sini, sebut saja ati ampela, sate usus, sate udang , sate jeroan, sampe empal goreng yang pastinya bisa menerbitkan liur. Nah berhubung perut gak bisa nampung banyak, 3 menu tadi aja yang ane lirik.

Khasnya nasi uduk Tanah Abang adalah pada proses pembuatan nasi uduknya yang kabarnya dibuat dengan perpaduan beragam rempah, seperti: daun salam, sereh, santan dan jahe. Nggak berhenti sampai situ, nasi uduk yang sudah siap saji ini dibungkus dengan daun pisang sehingga berukuran kira–kira satu kepalan tangan orang dewasa. Tapi malam itu si penjual nawarin nasi langsung dari termosnya. Alasannya, nasi yang itu masih hangat dan baru dibuat. Yah sutra, supaya dapet yang hangat, ane terima lah tawaran si penjual tadi.

Suapan pertama, nasi uduknya Bang Saman didominasi oleh rasa asin dan gurih. Nasi uduknya juga wangi meskipun gak mampir ke dalam daun pisang. Tapi, menurut ane, nasi uduk ini agak sedikit keras, beda sama nasi uduk yang biasa ane makan di rumah ato warung deket rumah. Mungkin ini yang disebut nasi uduk khas Jakarta itu. Jadi, niatan protes sama si penjual kembali ane masukin kantong kresek.

Sasaran berikutnya adalah dada ayam kampung goreng yang dari tadi udah menunggu untuk disikat. Dalam keadaan hangat, ayam goreng sangat pas dimakan dengan sambel goreng merah yang rasanya ngeblend antara pedas dan manis. Sementara nasi uduknya pas disantap dengan sambel kacang yang dicampur kecap sehingga menyatu dengan gurih dan asinnya si nasi.

Lauk penyerta lain seperti tempe dan tahu menurut ane gak beda sama yang sering dibikin nyokap di rumah. Cuma saja yang ini ukurannya cenderung lebih kecil, mungkin menyusut karena di goreng kali ya? (azas praduga tak bersalah).

Dilihat dari harganya, menurut gue nasi uduk Babe Haji Saman ini diperuntukkan bagi kalangan menengah ke atas. Buat info aja, sepotong ayam goreng kampung dihargai 8 ribu rupiah. Sedang nasi uduk dibandrol 2 ribu rupiah per porsinya.

Tapi tentu saja harga ini bukan merupakan satu-satunya patokan utama buat ente-ente pecinta nasi uduk Betawi. Oh iya, kalo kebetulan jalan-jalan ke warung ini, ane saranin untuk nyoba kerak telor yang letaknya tidak jauh dari warung Babe Saman. (brams)

Jam Operasional: 16.00 – 24.00 WIB

Skor (5 bintang = sempurna):
Rasa : * * * *
Lokasi : * * *
Harga : * * *
Pelayanan : * * * *




Lokasi:
Jl. Kebon Kacang IX, Tanah Abang,
Jakarta Pusat
DKI Jakarta
(Koordinat Bumi: lat: -6.1884274, lon: 106.8185073)

Peta:

View Wisata Kuliner in a larger mapl>

05 Desember 2008

Lontong Balap Berteman Sate Kerang

Surabaya. Kota yang satu ini emang gak ada matinya soal makanan. Baru aja kemarin perut ini disesaki oleh Soto Lamongan Cak Har, sekarang harus menanggung makanan khas lain yang namanya Lontong Balap. Penasaran kenapa namanya Lontong Balap? Menurut penjualnya (sok investigasi nih ceritanya), dulu tempat mangkal penjual lontong ini ada di daerah Wonokromo. Nah, seiring makin banyaknya si penjual makanan ini, maka setiap pagi sang pemilik dagangan harus berlomba-lomba memikul dagangannya dari rumah menuju Wonokromo. Mereka mengistilahkan “perlombaan” ini sebagai adu balap.
Tentu saja dengan harapan, siapa yang sampai lebih dulu pastinya bisa mendapat pelanggan yang lebih banyak. Jadilah si lontong ini mendapat nama yang menurut gue khas dan unik, “Lontong Balap”.

Terus, apa sih bedanya Lontong Balap dengan Lontong Sayur, Lontong Cap Gomeh, dan lontong-lontong lain? Jawabannya ada di cara penyajian, bumbu, dan tentu saja komposisi bahannya. Jika Lontong Sayur disajikan dengan sayur bersantan lain halnya dengan Lontong Balap yang lebih memilih kuah manis. Kuah ini ini dibuat dari petis khas Jawa Timur yang diberi air sehingga menjadi encer. Selain itu, lauk penyerta lain dari Lontong Balap juga unik, karena bertemankan oncom goreng dan toge yang sebelumnya sudah direbus. Oh iya, ada juga tahu goreng sebagai lauk lain yang pastinya bakal ikut menambah cita rasa dan tentunya menyesakkan perut.

Meskipun didominasi oleh rasa petis yang manis, Anda yang hobi dengan makanan pedas jangan dulu sungkan dengan makanan ini. Pasalnya, sambal yang menyertai si Lontong Balap ini ternyata bisa “menyulap” kuah manis tadi hingga memerahkan muka. Kenikmatan kuah lontong bernuansa manis pedas ini sangat pas diseruput saat disajikan hangat. Keunikan lain dari Lontong Balap ini adalah teman sajiannya yang bernama sate kerang. Kerang darah yang ditusuk rapi dengan ukuran tidak terlalu besar ini disajikan dengan sambal, bawang, dan kecap. Sehingga tidak heran jika kerang ini pun memiliki rasa manis pedas yang unik, sangat berbeda jika kita menikmati kerang dengan saus sambal bercampur parutan nanas yang juga memiliki nuansa rasa manis, pedas, dan sedikit asam.

Untuk menikmati seporsi Lontong Balap lengkap dengan sate kerang dan es Degan (kelapa muda) ini Anda cuma perlu merogoh kocek 6000 rupiah saja. Lontong Balap yang gue sambangi ini kebetulan terletak di jalan Jemur Andayani, tepat di seberang Kantor Pos. Kabarnya lontong balap ini dulu berada persis di depan Kantor Pos tadi, tetapi karena memacetkan jalan lokasinya harus dipindah tepat di seberang kali di depannya. Untuk menuju ke lokasi Lontong Balap ini sama sekali tidak susah. Jika meluncur dari Raya Darmo menuju SIER (Rungkut) melalui Jalan Ahmad Yani, maka ketika Anda menemukan Kantor Pos Jemur Andayani tengoklah ke sebelah kanan, tenda sederhana dengan spanduk bertuliskan “Lontong Balap” siap menyambut Anda. (brams)

Jam Operasional: 10.00 – 17.00 WIB

Skor (5 bintang = sempurna):
Rasa : * * * *
Lokasi : * * *
Harga : * * * * *
Pelayanan : * * * *


Lokasi:
Jl. Jemur Andayani
(Seberang Kantor Pos Jemur Andayani)
Surabaya

(Koordinat Bumi: lat: -7.3294113, lon: 112.7440381)


Peta:

View Wisata Kuliner in a larger map

Soto Lamongan “Cak Har”. Berawal Dari Ketidaksengajaan

Surabaya. Makanan ini gue temuin pertama kali saat nganterin temen yang mau beli obat buat mukanya. Sesuai judul, nemuinnya memang gak sengaja. Jadi saat akan balik ke kost-an di Surabaya, tiba-tiba mata ini tertuju pada deretan motor yang diparkir di bahu jalan. Tadinya gue kira ada kecelakaan, maklumlah di Jakarta deretan motor ini berarti parkiran liar sang penonton Lakalantas.

Selidik punya selidik, ternyata orang-orang yang punya motor ini sedang asyik menyeruput kuah soto dari mangkuk yang ukurannya sedikit lebih besar dari mangkuknya abang bakso keliling. Di penutup kain yang “melindungi” para penikmat soto ini pun jelas terbaca tulisan “Soto Lamongan” (tanpa Cak Har). Tanpa pikir panjang, verboden puter balik yang dari tadi nangkring di depan mata, langsung gue libas hanya demi menyambangi soto yang menarik hati dari jumlah pengunjunnya.


Oke, seperti yang sudah diduga, rada susah ternyata untuk dapet tempat duduk di sini, sekalipun untuk 2 orang saja. Semua berebut, bahkan yang lagi makan ampe ngelirik orang disebelahnya yang notabene bukan mau nyolong dompetnya, melainkan nungguin kapan dia cepet selesai dan tentunya angkat kaki dari situ.

Setelah berhasil “menjajah” tempat duduk di pojokkan, mesenlah gue seporsi soto ayam (menu utama dan satu-satunya di sini, selain tentunya es teh manis dan air jeruk). Singkat cerita, datanglah soto ayam yang ditunggu. Dari baunya aja bisa ketahuan kalo ini bukan sembarang soto.

Aroma kaldu ayam bercampur racikan kunyit langsung bisa diindra dengan baik. Tepat di tengahnya kita bisa menemukan potongan ayam lengkap dengan koyah sebagai toppingnya. Karena penasaran dengan isinya, sendok yang tersedia langsung gue pake untuk membongkar si soto. Ah, ternyata isinya standar saja, cuma nasi putih, bihun besar ala jawa timuran. “Lho kok gak ada telornya?” kata gue, “Mas gak bilang ya kalo mau pake telor”, jelas orang sebelah yang langsung diikuti penyesalan hati. Ternyata, standar soto ini adalah tanpa telor, dan jika Anda sempat mampir di sini dan kebetulan juga suka sama telor, jangan lupa mesen di awal, karena mesen di akhir adalah sia-sia mengingat kesibukan sang pelayan yang luar biasa.



Soal rasa, soto yang satu ini menurut gue sukup baik, meskipun bukan yang terbaik. Potongan daging ayam yang disajikan termasuk dalam kategori besar dengan jumlah yang lumayan. Bihun serta nasi penyertanya juga dimasak dengan sangat baik, dalam arti tidak terlampau lembek ataupun terlampau pera.

Kehebatan soto ini ada pada rasa kuah yang kuat serta topping soto yang bisa sangat fleksibel dipilih oleh pelanggannya. Selain itu, pedagang soto juga menyediakan topping tambahan seperti koyah, kecap manis, kecap asin, dan sambel yang bisa bebas dituang sesuai selera.

Oh ya, harganya juga tergolong murah lho. Untuk seporsi soto (tanpa telur) lengkap dengan nasi dan es teh manis, dibandrol si abang dengan harga 6000 rupiah saja. Gimana? Berniat mencoba? langsung aja sambangi. (brams)

Jam Operasional: All Day

Skor (5 bintang = sempurna):
Rasa : * * * *
Lokasi : * * *
Harga : * * * *
Pelayanan : * * * *

Lokasi:

Jl. Kertajaya Indah Timur
(Seberang Kantor Kopertis JawaTimur)
Tepat Setelah Lampu Merah
Dari Arah Arif Rahman Hakim
Surabaya



(Koordinat Bumi: lat: -7.2891965, lon: 112.7804303)


Peta:

View Wisata Kuliner in a larger map